Purwakarta, Sebuah Kota Yang Tertata

Jum’at, 29 Agustus 2014 kemarin mendadak saya dan empat orang kawan harus beranjak dari Sukabumi ke Purwakarta. Tujuannya sih menghadiri undangan dari Ketua Kwartir Daerah Jawa Barat yaitu kak Dede Yusuf sekaligus ada beberapa hal yang ingin kami konsultasikan dengan beliau menyangkut pengembangan sebuah aplikasi pramuka.

Kami berangkat pukul 02.30 WIB dini hari dan tiba disana pagi-pagi buta sekali pada sat belum ada aktifitas dari warga disana. Hanya butuh waktu sekitar dua setengah jam dari Sukabumi ke Purwakarta melalui jalur darat via tol Cipularang. Lamanya waktu tersebut belum terpotong waktu macet di daerah jalan raya Sukabumi-Cianjur sekitar 30 menit karena ada pengerjaan perbaikan jalan sehingga lalu lintas dibuka tutup.

Saat tiba disana, perasaan yang saya rasakan saat itu adalah heran sekaligus takjub. Hampir tidak ada lampu merah sepanjang jalan kota padahal disana banyak sekali persimpangan jalan, meski begitu lalu lintas tetap lancar bahkan siang hari dan jam sibuk pun. Di setiap persimpangan jalan hampir selalu ada monumen patung dan di gang atau jalan kecil pun selalu dihiasi dengan gapura. Selain itu yang menarik lagi didepan pertokoan sepanjang jalan disana dipasangi lampion, bahkan ada satu blok jalan yang dipenuhi dengan lampion, yaa seperti di Braga Bandung lah.

Tadinya saya ingin mengabadikan setiap sudut jalan disana dengan kamera, namun melihat kondisi saat itu dimana kawan saya sudah agak lapar jadi kami putuskan untuk mencari sarapan terlebih dahulu. Agak susah mencari sarapan disana, tak seperti di Sukabumi yang pada saat kapapun pagi, siang, sore, malam selalu ada jajanan kuliner. Akhirnya kami menemukan tempat makan di salah satu jalan disana yang terlihat cukup ramai. Di jalan tersebut ada lampion yang bertuliskan “Sahate”, dalam kamus bahasa Indonesia artinya adalah sehati. Menu makanan di tempat tersebut sederhana, masakan daerah khas Sunda. Dan yang membuat kami sedikit terkejut adalah harganya yang teramat murah. Total yang harus kami bayarkan untuk enam orang dengan beberapa jenis makanan yang kami santap hanya sebesar 49.000 rupiah. Sangat murah bukan? Biasanya dengan satu lembar uang biru (50.000) hanya cukup untuk berdua.

Jika dibandingkan dengan lebar jalan di kota Sukabumi tempat saya tinggal saat ini, lebar ruas jalan disana tidaklah berbeda jauh. Namun jika membandingkan ketertiban lalu lintasnya sungguh jauh berbeda. Di Purwakarta sungguh tertib sedangkan di Sukabumi sudah hampir mirip seperti di Jakarta meskipun tidak se-semrawut di Jakarta.

Selain tata lalu lintas, hal lain yang membuat saya kagum adalah jarang sekali berkeliaran pedagang kaki lima di sepanjang trotoar, meskipun masih ada satu atau dua tapi tidak sampai menghabiskan trotoar. Bahkan tempat samoah yang ada di pinggir jalan pun sampai-sampai dicoreti dengan grafiti entah karena iseng, kelewat rajin atau memang sengaja. Yang pasti suasana di Purwakarta sungguh tertata. Dan sepanjang pinggir jalan dipasangi bendera dari negara-negara ASEAN.

Yang saya pikirkan dan saya impikan saat ini setelah mengunjungi kota itu, seandainya kota Sukabumi tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan sedamai dan rapi seperti Purwakarta, maka saya akan semakin betah disini dan saya yakin Sukabumi bisa menjadi kota teraman sama seperti Purwakarta yang dinobatkan sebagai kota teraman nomor satu di Provinsi Jawa Barat dan nomor 4 di Indonesia.